Showing posts with label reading challenge. Show all posts
Showing posts with label reading challenge. Show all posts

Thursday, 21 February 2019

Lockwood & co.: The Screaming Staircase by Jonathan Stroud

By Icha Anindya at February 21, 2019 0 comments
Judul: Lockwood & co.: The Screaming Staircase (Undakan Menjerit)

Penulis: Jonathan Stroud


Penerjemah: Poppy D. Chusfani

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2017, cetakan ketiga)

Halaman: 424p

Beli di: Gramedia Jogja City Mall


 

Dikisahkan bahwa selama lima puluh tahun lebih, wabah hantu menyerang Inggris. Artinya, setelah matahari terbenam tidak ada orang yang berani keluar rumah karena takut diganggu hantu. Di sisi lain, fenomena supernatural ini membuka peluang karier baru, yaitu penyelidik paranormal. Agensi-agensi pembasmi hantu didirikan, anak-anak dengan bakat supernatural dididik sejak dini untuk menjadi agen berkualitas.

Seorang penyelidik muda dengan bakat luar biasa bernama Lucy Carlyle tak berbeda dengan orang sebayanya. Ia ingin menjadi agen profesional dengan karier cemerlang. Namun, peristiwa traumatis di masa kecilnya menghalanginya bekerja di agensi-agensi besar. Akhirnya ia bergabung dengan Lockwood & co., sebuah agensi pembasmi hantu paling tidak diperhitungkan di London. Meski hanya beranggotakan tiga orang: Anthony Lockwood sang pemimpin, George Cubbins yang ahli meriset, serta dirinya, Lucy bertekad bekerja dengan sepenuh kemampuannya.

Tapi kadangkala yang namanya sial mampir juga. Salah satu kasus yang mereka kerjakan berakhir dengan kerusakan fatal dan mengakibatkan mereka harus membayar sejumlah denda. Tak lama setelah itu, mereka kembali disewa untuk memecahkan kasus teror supernatural di sebuah rumah paling berhantu di Inggris dengan tawaran imbalan yang besar. Tak disangka, selain memecahkan misteri rumah berhantu, mereka juga memecahkan misteri lain tanpa sengaja.

Jujur saja, cerita horor adalah kelemahan saya. Iyaaa, saya pengecut banget, makanya nggak mau baca atau nonton segala hal ber-genre horor. Tapi demi RC saya beranikan diri untuk mencoba. Sepertinya saya membuat keputusan yang tepat membaca buku ini. Premise-nya nggak biasa, alurnya nggak bertele-tele, tokoh-tokohnya digambarkan secara jelas, dan saya suka banget unsur detektif yang dimasukkan dalam ceritanya, membuat buku ini nggak sekadar jadi cerita ghostbusters. Unsur mencekam tentu menyelimuti sepanjang buku, tapi sentuhan humor turut memberikan warna. Yang nggak disangka, saya malah jadi ketagihan! The Screaming Staircase adalah buku pertama dari lima seri Lockwood & co., jadi sepertinya nggak butuh alasan lagi untuk membaca lanjutannya. Buat saya yang sampai sekarang nggak mau nonton film horor, buku ini adalah pilihan tepat untuk mengasah keberanian, walaupun kalau malam bacanya ditemenin suami 😅



POPSUGAR 2019 Reading Challenge
Kategori: A ghost story


*All pictures are taken from Google

Monday, 11 February 2019

The Palace of Illusions by Chitra Banerjee Dhivakaruni

By Icha Anindya at February 11, 2019 0 comments
Related image
Judul: The Palace of Illusions (Istana Khayalan)

Penulis: Chitra Banerjee Divakaruni


Penerjemah: Gita Yuliani K.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2009)

Halaman: 496p

Beli di: lupa, soalnya udah lama banget, pokoknya beli di Solo 😅


 

Awalnya, saya terpesona oleh buku ini karena judulnya. Istana Khayalan. Kok kedengarannya indah dan magical sekali ya?

Kemudian saya membalik si buku, membaca tulisan di sampul belakangnya dan kalimat pertama yang tertulis di situ langsung membuat saya membeli si buku tanpa berpikir panjang.

Istana Khayalan adalah kisah Mahabharata yang diceritakan kembali dengan indah oleh Chitra Banerjee Divakaruni melalui sudut pandang Dropadi.

Hampir semua orang akrab dengan (atau setidaknya pernah mendengar) Mahabharata. Dropadi (atau Drupadi atau Draupadi atau kadang dijuluki Panchali) dijadikan sebagai penutur kisah Mahabharata versi Divakaruni. Alur cerita Mahabharata tak ada yang diubah, tapi bagaimana Dropadi menyikapi setiap peristiwanya, bagaimana hubungan pribadinya dengan setiap tokoh, bagaimana cerita dibuat mengalir dengan melibatkan emosi di dalamnya, serta beberapa twist lain yang diselipkan membuat epos klasik ini punya rasa yang berbeda.

Meski kita tahu bahwa Mahabharata melibatkan tokoh yang luar biasa banya banyak, dapat dikatakan bahwa Dropadi adalah tokoh utama wanita dalam epos tersebut. Dropadi memiliki karakterisasi yang rumit (gabungan kecantikan, ketegasan, kecerdasan, dan kekeraskepalaan). Banyak peristiwa dalam Mahabharata yang berputar di sekeliling Dropadi, membentuk rantai sebab-akibat yang berujung pada pertempuran dahsyat. Divakaruni menyoroti peran wanita, dalam hal ini Dropadi, pada jalannya kehidupan. Betapa wanita punya kekuatan luar biasa dibalik sikap dan tutur lembutnya sehingga tak sepantasnya dianggap remeh.

Saya sendiri penggemar Mahabharata dan sudah mengenal cerita ini sejak balita. Mamah dan Yangti sering ndongengi saya dengan penggalan-penggalan kisah dalam Mahabharata. Saya juga sering mendengarkan wayang kulit dari radio sehingga akrab juga dengan Mahabharata versi Jawa. Babak favorit saya dalam Mahabharata adalah yang dalam wayang dijuduli sebagai lakon Pandhawa Main Dadu. Dropadi punya peran sentral dalam babak ini dan sumpahnya saat itu membawa peperangan yang teramat besar hingga memusnahkan setengah dinasti Kuru.

Oh, dan Mahabharata pernah diangkat ke layar kaca oleh sebuah stasiun TV India dan ikut jadi booming di Indonesia. Ini Dropadi-nya.
Image result for pooja sharma

Pooja Sharma adalah Dropadi favorit saya! 😆

By the way, saya beli dan menamatkan buku ini sudah sejak 2009. Cover yang saya pakai di postingan ini bukan cover versi terjemahan bahasa Indonesia karena nggak nemu gambar yang resolusinya bagus. Maafkan 😃



POPSUGAR 2019 Reading Challenge
Kategori: A book inspired by mythology, legend, or folklore


*All pictures are taken from Google

Friday, 1 February 2019

The Wrath and the Dawn by Renee Ahdieh

By Icha Anindya at February 01, 2019 0 comments

Judul: The Wrath and the Dawn

Penulis: Renee Ahdieh  

Penerbit: Hodder & Stoughton Ltd (2016)

Halaman: 404p

Beli di: Periplus Malioboro Mall, Jogja


 

In a glimpse:

Every dawn brings horror to a different family in a land ruled by a killer. Khalid, the eighteen-year-old Caliph of Khorasan, takes a new bride each night only to have her executed at sunrise. So it is a terrible surprise when sixteen-year-old Shahrzad volunteers to marry Khalid. But she does so with a clever plan to stay alive and exact revenge on the Caliph for the murder of her best friend and countless other girls. Shazi's with and will get her through to the dawn that no others have seen, but with a catch... she may be falling in love with a murderer.

Setelah membaca "bocoran" di sampul belakang buku yang saya kutip di atas, adakah yang berpikir "Kok kayanya familiar dengan premise-nya ya..."?

Jika nyatanya ada yang berpikir demikian, maka itu seratus persen nggak salah! Sebab buku ini memang retelling dari sebuah karya klasik asal Timur Tengah yang sangat terkenal. Ya, Kisah 1001 Malam atau dalam judul bahasa Inggrisnya, Arabian Nights. Saya sangat menyukai Arabian Nights dan cukup kecewa mengetahui jarang sekali ada adaptasi atau bentuk retelling dari karya tersebut. Dan ketika menemukan buku ini, rasanya bahagiaaaa banget.

Seperti yang sudah saya cuplikkan di atas, premise cerita dalam buku ini dibuat sama dengan Arabian Nights, tapi namanya juga retelling, tentu ada elemen yang ditambahkan dan dimodifikasi sebagai twist sehingga tercipta plot baru. Sementara pada Arabian Nights (sependek yang saya tahu) 99% berisi kumpulan kisah yang diceritakan setiap malamnya, di The Wrath and the Dawn, kisah cinta Khalid dan Shahrzad yang dijadikan sorotan utama. Hadirnya elemen fantasi, sihir, kutukan, dan benda-benda ajaib turut memperindah cerita. Kalau ada hal yang kurang saya sukai, maka itu adalah kurangnya deskripsi dalam buku ini. Tapi hal itu bisa jadi sisi positif juga karena saya bisa membayangkan wujud tokoh dan lokasi serta adegan-adegan yang ada semau saya.

Waktu baca buku ini, ngepas banget saya lagi suka sama beberapa lagu soundtrack film India yang belakangan lagi booming. Saya jadi berharap buku ini difilmkan dengan cast-nya... aktor-aktris India! Hahaha... Meskipun buku ini berlatar di daerah Persia, tapi menurut saya rasanya kok cocok-cocok aja diperankan sama orang India. Feature wajahnya nggak jauh beda kan yaaa 😁

Jadi ini dream cast versi saya. Tolong jangan ditabok 😆

Image result for deepika padukone mastani 
Deepika Padukone as Shazi. Ini saya ngambil gambarnya dia sewaktu memerankan Mastani. Aksesorisnya mirip kan sama yang dipakai di cover buku? Hihi... Saya ngefans sama Deepika. Dia juga sering banget memerankan karakter rebel dan kuat, jadi cocok memerankan Shazi yang strong-willed.

Dan kalau dia Shazi, maka pasti ketebak dong siapa Khalid-nya...

Image result for ranveer singh black kurta wedding

  Ketebak kan? Maapkeun 😅

Saya barisan penggemar Deepika-Ranveer banget pokoknya. Chemistry-nya di on-screen nggak perlu diragukan lagi. Sejak mereka main bareng di Ram Leela, saya udah tau pasangan ini bakal jadi favorit saya setelah SRK-Kajol 😄




Related image

Shahid Kapoor as Jalal. Dia main bareng sama Deepika dan Ranveer di Padmaavat dan saya langsung suka sama gaya cool-nya itu. Keren juga kalau dia jadi kapten pasukan kerajaan.





Related image

 
Shraddha Kapoor as Despina








Image result for sidharth malhotra

 
Siddarth Malhotra as Tariq

 





Nggak sesuai ekspektasi Anda? Sekali lagi maafkan. Namanya juga dream cast 😆



POPSUGAR 2019 Reading Challenge
Kategori: A book you think should be turned into a movie



*All pictures are taken from Google

Saturday, 27 January 2018

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kuroyanagi

By Icha Anindya at January 27, 2018 0 comments
Related image
Judul: Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela

Penulis: Tetsuko Kuroyanagi


Penerjemah: Widya Kirana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017, cetakan kedua puluh empat)

Halaman: 272p

Beli di: Harbolnas gramedia.com





Totto-chan dikeluarkan dari sekolah lamanya karena guru-guru tak tahan menangani gadis kecil itu. Menurut mereka, Totto-chan adalah anak nakal, padahal sesungguhnya Totto-chan hanya berbeda. Ia selalu penasaran akan hal baru, rasa ingin tahunya besar, dan imajinasinya tinggi. Ketika Mama mendaftarkannya ke Tomoe Gakuen, Totto-chan dengan cepat menyukai sekolah barunya itu. Alih-alih ruang kelas biasa, murid-murid sekolah itu belajar di gerbong kereta! Sistem belajar yang unik, teman-teman yang semuanya menyenangkan, dan terutama Kepala Sekolah yang mendidik anak-anak dengan penuh cinta membuat Totto-chan selalu bergembira menjalani hari-harinya bersekolah di Tomoe Gakuen.

Satu hal yang membuat buku ini sangat-sangat istimewa adalah kisah-kisahnya yang sarat akan pelajaran. Selama membaca buku ini kita akan melihat nilai-nilai tentang bagaimana berteman dengan siapa saja, tanpa memandang latar belakang bahkan kondisi fisik seseorang, bahwa setiap orang haruslah mempunyai attitude yang baik pada siapa saja, namun tetap bebas menjadi diri sendiri.

Totto-chan, yang tak lain dan tak bukan adalah Tetsuko Kuroyanagi sendiri, juga menuturkan sekilas kisah hidup Sosaku Kobayashi, sang kepala sekolah yang inspiratif. Pengetahuan Kepala Sekolah yang sangat luas mendorongnya mendirikan Tomoe Gakuen dengan sistem pembelajaran yang tak lazim kala itu. Mr. Kobayashi percaya bahwa setiap anak memiliki keunikan sehingga dalam mendidik ia mempunyai tujuan yang luhur: jiwa anak-anak didiknya tumbuh secara alami sekaligus watak-watak baik dalam diri mereka turut berkembang sehingga mereka menjadi manusia yang tak hanya mumpuni secara kognitif namun juga memiliki kepribadian mulia.

Kisah-kisah Totto-chan dalam buku ini dituturkan dengan sederhana dan indah, sukses membuat saya ikut tersenyum, tertawa geli, dan kadang juga ingin ikut menangis. Meski ada beberapa hal dari Tomoe Gakuen yang saya kurang sependapat, saya membayangkan jika sekolah seperti Tomoe Gakuen ada di Indonesia, pasti anak-anak negeri ini akan senang bersekolah dalam cara yang sebenarnya. 

Sebenarnya saya dulu pernah membaca buku ini, mungkin sepuluh tahunan yang lalu, ketika masih kuliah S1, tapi waktu itu saya cuma pinjam. Nah, mumpung Harbolnas Desember 2017 lalu Gramedia olshop buka diskon 50% untuk semua buku, saya beli buku ini. Lumayan, dapat hardcover dengan harga miring 😁





Kategori: A book where the main character is a different ethnicity than you



Kategori: A book by an author of a different ethnicity than you

Wednesday, 17 January 2018

Murder on the Orient Express by Agatha Christie

By Icha Anindya at January 17, 2018 0 comments
Image result for murder on the orient express gramedia
Judul: Murder on the Orient Express (Pembunuhan di Orient Express)

Penulis: Agatha Christie


Penerjemah: Gianny Buditjahja

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017, cetakan kesebelas)

Halaman: 360p

Beli di: Gramedia Ambarrukmo Plaza, Jogja




Detektif ternama Hercule Poirot melakukan perjalanan dari Timur Tengah ke Eropa menggunakan kereta api kelas wahid, Orient Express. Perjalanan yang diharapkannya menyenangkan seketika berubah ketika kereta terjebak reruntuhan salju di wilayah Balkan. Belum lagi selesai satu masalah, seorang penumpang ditemukan tewas dalam kompartemen: tubuhnya ditusuk berulang-ulang dan pintu terkunci dari dalam.

Demi menemukan pelakunya, Poirot mewawancarai para penumpang yang terdiri dari beragam latar belakang, pekerjaan dan asal-usul. Tentu saja, apa yang tersembunyi tidak sesederhana yang tampak di luar. Seiring penyelidikan Sang Detektif, misteri terungkap satu per satu. Sekali lagi kecerdasan Poirot ditantang untuk memecahkan kasus yang tampak tak punya titik terang.

Saya baru-baru ini saja jadi penggemar Agatha Christie (telat ya? Ke mana aja saya? 😑) dan Orient Express jadi salah satu kisah favorit saya. Cara Poirot memecahkan kasus secara metodis dijelaskan dengan bagus sekali. Saya selalu suka melihat proses detektif berpikir dan mengambil step by step dalam memecahkan kasus sehingga buku ini memberikan perasaan asyik tersendiri. 

Elemen lain yang membuat kisah ini spesial adalah kemunculan karakter yang cukup banyak namun semuanya dijelaskan dengan teliti. Semuanya punya cerita tersendiri, semuanya punya alibi, tapi semuanya juga mungkin untuk dijadikan tersangka. Saya yang baca mau tidak mau jadi ikut menebak-nebak. Jangan-jangan dia ya? Tapi masa sih?

Orient Express mungkin salah satu karya Agatha Christie yang paling terkenal karena telah beberapa kali diadaptasi. Yang paling baru, Orient Express diangkat ke layar lebar akhir November 2017 lalu. Kennenth Branagh didapuk menjadi sutradara sekaligus memerankan Hercule Poirot. Film Orient Express ini didukung sederet bintang terkenal, di antaranya Johnny Depp (pemeran Ratchett yang nyebelin, tapi sukses bikin saya menjerit soundless di dalam teater), Willem Defoe yang selalu bisa menampilkan karakter aneh hingga peraih Oscar, Judi Dench; jelas merupakan nilai plus untuk ditonton. Terlepas dari beberapa elemen cerita yang terpaksa dihilangkan karena durasi, secara keseluruhan film Orient Express tetap menarik disaksikan. Kalau selama ini gemar membayangkan wujud kumis kebanggan Poirot, silakan tonton film ini dan bandingkan si kumis di film dengan imajinasi kalian 😁





Kategori: A book that's become a movie in 2017



Kategori: A book made into a movie you've already seen

Wednesday, 6 December 2017

2018 POPSUGAR Reading Challenge

By Icha Anindya at December 06, 2017 0 comments
2017 sudah mau habis dan reading challenge tahun lalu gagal total 😢

I blame myself for this. Sayanya yang kurang komitmen kok. Ada yang sudah dibaca tapi belum juga dibuat review-nya. Ada juga yang kebaca tapi lemoooot banget, nggak selesai-selesai.
 
However saya nggak menyerah kok. Popsugar udah ngeluarin reading challenge untuk tahun depan dan dengan penuh rasa tidak tahu malu saya men-challenge diri sendiri. Lagi. Tujuannya tidak lain supaya saya kembali rajin membaca dan posting di blog.

 Icon ini diedit dari image di POPSUGAR. I will use this in my posts.
If you wish yo use this icon, please credit to this blog and POPSUGAR 😊


Dan ini daftar kategorinya.
Saya belum memutuskan buku-buku apa yang mau dibaca. Insya Allah akan saya cantumkan di post berikutnya. Have a great bookish days ahead! 😎

Monday, 17 July 2017

Kisah-kisah Kucing by James Herriot

By Icha Anindya at July 17, 2017 0 comments
https://ecs7.tokopedia.net/img/product-1/2016/6/1/4355111/4355111_1697151e-7482-47f3-a6d4-af629eb020cf.jpg 
Judul: Cat Stories (Kisah-kisah Kucing)

Penulis: James Herriot

Penerjemah: Jia Effendie

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016, cetakan kedua)

Halaman: 216p

Beli di: Togamas Gejayan, Jogja




Rasa-rasanya nggak ada manusia yang bisa menolak pesona ciptaan Tuhan berjuluk kucing.

Karnivora lucu yang semasa saya kuliah biasa dipanggil Felis domesticus sesuai nomenklatur-nya ini bisa dibilang hewan piaraan terpopuler selain anjing. Meski begitu, kucing juga punya pamor sebagai hewan yang licik dan agak angkuh, stereotipe yang dipasangkan oleh sebagian film. Nah, James Herriot menceritakan beberapa kisah mengenai mereka dalam buku ini. Jadi sebenarnya kucing ini hewan yang bagaimana, sih?

Buku ini memuat sepuluh kisah, semuanya berpusat pada kucing yang berbeda-beda. Ada cerita tentang Alfred, kucing 'penjaga' toko permen; Oscar, kucing yang gemar menghadiri pertemuan-pertemuan sehingga dijuluki kucing sosialita; Frisk, kucing yang sangat dekat dan setia pada majikannya; juga ada Buster, yang ditinggal mati induknya namun tumbuh menjadi anak kucing yang lincah, jahil dan gemar bercanda dengan piaraan tuannya yang lain. Semua kisah tersebut dituturkan dengan bahasa yang ringan tanpa kehilangan makna.

James Herriot sendiri merupakan dokter hewan yang juga produktif sebagai penulis. Karya-karyanya adalah kisah-kisah perjalanannya berinteraksi dengan hewan-hewan yang ia jumpai selama karirnya. Herriot mengakui bahwa ia punya ketertarikan tersendiri terhadap kucing sehingga kisah-kisah yang ia tuturkan dalam buku ini semuanya memiliki makna yang mendalam. Buku ini menyentuh sisi manusiawi setiap pembacanya, mengajak kita semua untuk mampu memberikan perhatian lebih pada makhluk lain yang juga ciptaan Tuhan. Buku ini juga mengingatkan saya pada kisah Rasulullah saw. dan kucing kesayangannya. Yup, kucing itu binatang kesayangan Rasulullah lho. Jadi pantas rasanya kalau manusia senantiasa perlu menunjukkan sikap respek pada hewan, bahkan meski ia bukan pecinta hewan.

Sampulnya yang lucu, jumlah halaman yang tidak terlalu banyak, bahasa yang ringan, dan pelajaran yang tersisip dalam setiap kisah membuat buku ini cocok dibaca bagi semua umur. Siapa tahu setelah membaca buku ini ada yang berminat memelihara hewan di rumahnya 😉





Kategori: A book with a cat on the cover

Wednesday, 29 March 2017

Wishful Wednesday #2

By Icha Anindya at March 29, 2017 1 comments


Hari Rabu lagi! Saatnya ber-WW ria 😋

Masih dalam rangka menyukseskan 2017 POPSUGAR Reading Challenge, buku yang masuk WW kali ini adalaaaaah…

http://dutailmu.co.id/watermarkdetail.php?image=images/product/medium_31arabiannightkisah1001malam.jpg&watermark=images/watermark/watermark.png

Yup, Arabian Nights alias Kisah Seribu Satu Malam.

Dari dulu saya kepengen banget baca Arabian Nights. Saya pernah baca salah satu terjemahannya, tapi nggak diterjemahin semua jadinya kurang memuaskan. Kalau edisi terjemahan yang ini sepertinya diterjemahkan semua dari naskah aslinya (melihat betapa tebalnya buku itu 😅). Saya menggemari dongeng klasik dan Arabian Nights mungkin satu-satunya dongeng klasik yang terkenal dengan latar belakang Timur Tengah. Salah satu film Disney klasik favorit saya juga diambil dari salah satu cerita di sini lho. Yep, apa lagi kalau bukan Aladdin 😄

Buku apa yang kamu impikan minggu ini? Lihat cara posting WW di Books to Share ya 😊

Thursday, 23 March 2017

The Geography of Genius by Eric Weiner

By Icha Anindya at March 23, 2017 2 comments
https://images.gr-assets.com/books/1469086684l/31187079.jpg


Judul: The Geography of Genius

Penulis: Eric Weiner

Penerjemah: Barokah Ruziati

Penerbit: Qanita (2016)

Halaman: 575p

Beli di: Gramedia Slamet Riyadi, Solo




Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata genius? Albert Einstein?  IQ di atas 140? Pemenang hadiah Nobel?

Buku ini mengajak kita untuk sejenak memperluas pandangan kita mengenai kegeniusan. Sang penulis, Eric Weiner, membawa kita bertualang mengunjungi tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat-tempat kegeniusan. Genius kreatif lebih tepatnya. Weiner menapak tilas tempat-tempat asal orang-orang yang tidak hanya pandai secara intelektual, tapi juga mampu menciptakan ide-ide baru yang menakjubkan.

Perjalanan Weiner dimulai dari Athena kuno, berlanjut ke Hangzhou periode Dinasti Song, Florence, Edinburgh, menyeberang ke Kolkata, singgah ke Wina hingga berakhir di Silicon Valley. Ya, dari jutaan tempat di dunia, hanya sebagian kecil saja yang menjadi tempat semburan kreativitas dan kegeniusan. Apa pasal? Apakah karena iklim dan lingkungan di sana? Atau karena makanannya? Seringkali jawabannya tidak seperti yang kita duga.

Weiner menulis buku ini dengan gaya yang ringan, humoris, namun mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa kegeniusan berikut latar belakangnya dengan jelas. Saya jadi ingin selalu membalik halaman-halamannya karena penasaran plus merasa dimanjakan oleh deskripsi tempat-tempat yang disinggahi Weiner. Saya bisa membayangkan keadaan periode kegeniusan yang diceritakan dan efek sampingnya jadi baper kepengen travelling. *senggol Suami*

Weiner juga menyisipkan berbagai referensi ilmiah berupa penelitian-penelitian psikologi dan sosial dalam bukunya. Karena terbiasa dengan crosscheck ilmiah, saya senang melihat bagaimana Weiner melakukan riset mendalam untuk tulisannya. Meski bukan orang humaniora, saya lumayan paham lho. Hehe 😁

Beberapa nama yang disebutkan dalam buku ini telah kita kenal: Aristoteles, Michaelangelo, Mozart, Rabindranath Tagore, Freud, hingga Steve Jobs; tapi ada lebih banyak lagi yang jarang terdengar gemanya, seperti Thucydides dan Shen Kuo. Meski mereka mempunyai keahlian di bidang yang berbeda, tumbuh dan berjaya di tempat berbeda, pun punya banyak kekurangan sebagai manusia, sepak terjang dan kisah hidup mereka membawa pelajaran yang sama, yang terus diulang-ulang di sepanjang buku ini.

Seorang genius bukan orang yang tak pernah gagal, malah mereka lebih sering gagal dibandingkan orang kebanyakan. Tapi mereka tidak takut gagal. Mereka merangkul kegagalan. Mereka juga tahu dengan tepat mengapa, bagaimana, dan di mana mereka gagal, sehingga mereka tidak akan membuat kegagalan di tempat yang sama.





Kategori: A book involving travel
 

Purple.Bibliophile Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review